Menghitung aku menghitung
Menghitung satu persatu
Termenung menghimbau masa lalu
Aku berusaha hitung modalku
Untuk perjalanan ku nanti kembali ke Rabb-ku
Kiranya banyak kah saldo kebaikanku
atau malah defisit dan berat ke kiri timbanganku
Kulihat ternyata banyak sekali lalai ku
Saking banyaknya, tak lagi dapat lagi ditimbang,
aih...jelas sekali aku ini manusia yang penuh cela
apakah mungkin selama ini aku buta?
Bagaimana ini? Aku mau kembali ke Rabb-ku dengan bahagia
Sekelompok dengan orang-orang yang menerima berita gembira
Ah....aku tau....apa kamu tau?
Rabb ku itu Al Ghofur Al Akram...
Dia lah Allah yang Maha Pemaaf, Maha Pemurah
Dia yang tidak pernah mengabaikan siapapun yang berlindung kepada-Nya
Akupun bersujud dihadapan-Nya seraya berdo'a
"Ya Allah yang maha mendengar do'a hamba-Nya
Ampunilah aku yang masih saja buta walau dalam cahaya.
Yang masih tersungkur walau sudah di jalan yang rata.
Ampunilah aku yang bergelimang dosa,
Berikanlah aku cahaya petunjuk-Mu, Tunjukkanlah aku jalan yang lurus.
Dan bimbinglah aku selalu Yaa Allah
Agar aku tak lagi tersesat setelah aku mendapat petunjuk
Ya Allah Hanya kepadamulah aku meminta pertolongan
Karuniakanlah aku indahnya cinta-Mu,
Agar kelak Kau izinkan ku untuk merasakan ni'mat surga-Mu
Amin Amin Yaa Rabbal Alamin".
Tuesday, January 1, 2013
It's 2013...Yuk Bermuhasabah !!!
Sebagai seorang Muslim tentunya tujuan hidup kita adalah Mendapat ni'mat
dunia dan keselamatan akhirat (kehidupan yang kekal), keduanya kita sadari bersama hanya dapat
dicapai apabila kita memperoleh cinta dan rahmat Allah, terutama
keselamatan akhirat. Untuk memperoleh cinta dan rahmat Allah, tentulah
kita juga harus mencintai Allah. Pertanyaannya adalah "Sudah kah kita
mencintai Allah dan menunjukkan rasa cinta kita dalam keseharian hidup
kita?"
Menurut tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’ani : ” setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak. Karena hidup didunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya”.
Makna Muhasabah
"Muhasabah" berasal dari kata "Hisab" yang berarti "Menghitung", sedang maknanya dapat dijabarkan sebagai: Menghitung kembali (mengevaluasi) setiap perbuatan kita di masa lampau apa-apa saja perintah Allah yang sudah kita lakukan, apa yang belum kita lakukan, ataukah mungkin saja ada larangan Allah yang kta langgar , selanjutnya setelah menghitung hal-hal diatas, kita juga beristighfar, bertaubat dan melakukan persiapan untuk menggapai masa depan yang lebih baik, atau apabila disederhanakan sebagai "Intropeksi Diri".
Dalam firmannya surat al-Hasyr [59] : 18, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khottob juga berpesan : ” حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا “
” Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak”
Pentingnya setiap individu menghisab dirinya sendiri untuk selalu mengintrospeksi dirinya sendiri sebagai seorang hamba Allah Swt, karena kelak di Akhirat, segala sesuatu akan dimintai pertanggung jawabannya.
Yuk! Mulai Bermuhasabah
Pertama-tama kita hitung umur kita, sudah berapa lama kita hidup di bumi Allah? apa yang sudah kita lakukan dengan diri kita selama ini? lebih banyak kebaikan (manfaat) atau keburukan (mudharat) ? kemudian tanyalah kepada diri sendiri kira-kira berapa lama lagikah umur kita di dunia ini? apabila umur rata-rata orang Indonesia adalah 65th, maka andaikanlah saja kita hidup sampai umur 65th, maka berapa lama lagi kita hidup? Mau kita apakan sisa hidup kita?
Kalau tujuan hidup kita seperti yang diutarakan diatas mendapat ni'mat dunia dan keselamatan akhirat, maka untuk mencapai tujuan tersebut "timbangan" kita harus lebih berat ke-kanan, yaitu lebih banyak amal baik dan manfaat. Kalau dari muhasabah sekiranya kita masih beda tipis antara timbangan kanan dan kiri, kita harus mulai bekerja lebih keras mengisi timbangan kanan (kebaikan)kita,
A. Muhasabah Terhadap Perintah-Perintah Allah yang Wajib dahulu kemudian yang Sunah
1. Sholat : - Sholatkah kita ? atau tidak?
- Berapa kali sholat? Berapa kali tidak (meninggalkan) sholat karena lalai dsb?
- Tepat waktu tidak? ataukah suka terlambat, diakhir waktu?
- Khusyu' atau tidak?
- Ikhlas (Lillahi Ta'Ala) tidak sholat nya?
2. Puasa : - Puasa atau tidak?
- Bolong-bolong tidak puasanya?
- Kalau ada yg bolong, sudah kita qadha belum puasa kita?
- Puasa saya ada implikasi positiv nya tidakbagi diri kita?
3. Zakat kita, Haji kita, semua perintah Wajib dari Allah kita muhasabah satu persatu.
4. Kemudian Muhasabah dari sudah atau belum nya kita melaksanakan Sunah-Nya?
B. Muhasabah Terhadap Larangan-larangan Allah
Renungkan....berapa banyak dan apa saja larangan-larangan Allah yang tetap kita lakukan karena syahwat/nafsu dunia? Banyak kah? Apakah kita sudah men-Esa kan Allah ataukah kita masih suka percaya bahwa ada selain Allah yang dapat menolong kita alias syirik, seperti dukun atau paranormal dan peramal? Apa kita sudah jujur atau masih suka berbohong? Apa kita makan harta halal atau kita makan hasil korupsi? Apa kita sudah menjaga kesucian diri sebelum menikah ataukah kita dengan santai berpacaran dan menyerempet zina? dan lain sebagainya.
C. Muhasabah Terhadap Perilaku-Prilaku Kita
Hitung lah, lebih berat (banyak) prilaku kita selama ini yang manfaat atau yang mudharat? Apakah kita sudah menghayati Asmaul Husna dan meneladani nya? Apakah kita bermanfaat bagi selain kita atau belum bermanfaat atau audzubillah malah mencelakakan selain kita? Apakah kita dapat memberikan ketenangan dan rasa senang dihati sesama atau malah meresahkan? Apakah kita senang memuji atau malah menghardik dan bergosip? dan lain sebagainya
D. Muhasabah Terhadap Anggota Tubuh Kita
Hisablah anggota tubuh kita sekarang, karena ketika kita di hisab oleh Allah, anggota-anggota tubuh kita tersebutlah yang akan menjadi saksi di hadapan Allah, atas semua perbuatan yang pernah kita lakukan, walaupun hanya sebesar biji zarah.
1. Mata Kita : - Dipakai apa saja selama ini?
- Lebih banyak Baca Al Qur'an dan belajar atau nonton tv, serial korea misalnya?
- Memandang yang halal berapa lama? (suami /istri) atau lebih sering memandang yang tidak halal (subhat)?
2. Kaki Kita : - Berapa kali ke masjid untuk sholat berjamaah? berapa kali ke mall?
- Berapa kali ke pengajian atau menuntut ilmu? berapa sering dipakai shopping?
3. Lisan Kita : - Berapa sering di gunakan untuk melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an? atau lebih suka karaoke atau malah gibah?
- Berapa sering untuk memuji atau malah justru memaki dan marah-marah?
4. Tangan Kita: - Kita gunakan untuk menulis yang berguna atau menolong sesama atau mencuri?
5. Otak Kita : - Kita buat mencari ilmu yang bermanfaat atau malah di gunakan untuk bertipu muslihat?
dan lain sebagainya.
E. Muhasabah Terhadap Semua (Harta Benda) Yang Kita Miliki
Kita sebagai muslim haruslah tau dan senaniasa menyadari bahwasannya "Pada Hakikatnya Semua Seisi Dunia Ini MILIK ALLAH", semua yang kita miliki, seperti keluarga, anak, harta, dan sebagainya semuanya milik Allah, kita hanya di titipi-Nya. Maka nantinya ketika di nisab oleh Allah SWT, pastilah Allah juga akan meminta pertanggung jawaban kita atas apa-apa yang di titipkan-Nya kepada kita tersebut. oleh karenanya, sebelum kita di nisab di hari akhir, ada baiknya kita menisab diri kita sendiri agar kita bisa memperbaiki diri.
1. Anak Kita : - Sudah kita didik apa anak kita? Aqidah Islam? ataukah cuma ilmu pasti?
- Bisakah anak kita membaca Al-Qur'an ataukah kita justru bangga dengan anak kita yang fasih berbahasa inggris?
- Sudahkah anak kita kenalkan kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya yang indah? atau malah justru mereka lebih kenal dengan karakter kartun Disney ?
- Sudahkah anak kita ajarkan cerita-cerita tauladan Rasulullah dan para sahabatnya, ataukah tokoh Avangers dan kawan-kawannya yang jadi idolanya?
2. Harta Kita : - Sudah kita gunakan untuk apa saja harta kita? Apakah kita hambur-hamburkan, ataukah berguna untuk menolong sesama?
- Sudahkah kita 'amal kan? Zakat kan? Infaq kan? Shodaqah kan?
- Rumah kita buat apa saja? Sholat berjamaah atau hanya kegiatan tak manfaat?
3. Ilmu Kita : - Sudahkah kita menuntut ilmu?
- Apa ilmu kita bermanfaat untuk sesama atau tidak?
4. PekerjaanKita : Apa kita sudah bekerja dengan sepenuh hati? Korupsi waktu atau tidak? Bermanfaat tidak kerja kita bagi selain kita?
Dan lain sebagainya...
Kelima Muhasabah diatas tersebut sangatlah penting dan juga bermanfaat dilakukan oleh setiap orang. Tentunya hanya orang yang benar-benar percaya akan Hari Kemudian (Hari Akhir, Hari Kebangkitan dan juga Hari dimana kita di Nisab) yang akan merasakan urgensi (pentingnya) ber-muhasabah.
Dinyatakan dalam Al-Qur'an QS. An-Naba [78]: 17 s/d 40 tentang adanya ketetapan Allah yang pasti yaitu Hari Keputusan, itulah hari ketika sangsakala ditiup, lalu kita datang berkelompok-kelompok, dimana ada kelompok yang pada hidupnya melampaui batas, orang kafir, mereka itulah calon penghuni neraka, mereka ketika hidup di dunia, tidak percaya (tidak takut) kepada Hisab. Ketika hari Hisab nanti dimana manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, maka orang kafir akan menyesal dan berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku adalah tanah" tapi penyesalan kemudian adalah percuma, di Yaumul Nisab, nasib kita ditentukan oleh amal perbuatan kita sendiri, tidak ada seorangpun yang dapat mencampuri hasilnya dan hanya Syafaat dan cinta Allah lah yang dapat menyelamatkan kita dari siksa neraka. Maka sebelum kita di Nisab oleh Allah, Nisablah diri sendiri, dan segeralah ber-taubat serta memperbaiki diri.
TAUBAT, ISTIGHFAR dan MEMPERBAIKI DIRI
Muhasabah tidak akan berhasil (tidak membawa implikasi positif dalam diri kita) apabila tidak disertai usaha untuk Membersihkan diri dari lembaran hidup lama yang kotor dan membuka lembaran baru yang putih bersih dengan semangat untuk mengisi lembaran baru tersebut dengan Amalan Sholihan. Bagaimana kita dapat membersihkan diri dari kotornya hidup kita selama ini? Taubat lah jawabannya, ingatlah selalu bahwa Allah al-Ghofur ar-Rahim, mintalah ampun kepadanya, bukankah Allah bersabda dalam QS. At-Tahriim [66]: 8 " Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai...." , Tentu saja taubat juga harus dijaga, bagaimana menjaga nya (taubat)? Allah juga sudah mengajarkan cara menjaga taubat kita dalam QS. Al-Furqaan [25]: 71 "Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya".
Kesimpulan dari tulisan saya diatas adalah: Untuk mempersiapkan diri kita agar pada yaumul nisab kita dikumpulkan bersama orang-orang yang beruntung, para ahli surga adalah dengan memastikan dan berusaha terus agar kita termasuk orang yang bertaqwa, terus berusaha untuk menambah saldo amalan sholihan kita, berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, karena "sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang orang yang berbuat kebaikan" (QS. An-Nahl [16]: 128). Selain itu ber-Taubatlah kepada Allah dengan sebenar-benar nya Taubat, berjanjilah bahwa kita tidak akan mengulangi dosa-dosa yang dulu kita lakukan dan Kerjakanlah Amal Saleh, perbanyaklah sodaqoh dan silaturahim. Demikian.
Wa Allah A'lam
Menurut tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma’ani : ” setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak. Karena hidup didunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya”.
Makna Muhasabah
"Muhasabah" berasal dari kata "Hisab" yang berarti "Menghitung", sedang maknanya dapat dijabarkan sebagai: Menghitung kembali (mengevaluasi) setiap perbuatan kita di masa lampau apa-apa saja perintah Allah yang sudah kita lakukan, apa yang belum kita lakukan, ataukah mungkin saja ada larangan Allah yang kta langgar , selanjutnya setelah menghitung hal-hal diatas, kita juga beristighfar, bertaubat dan melakukan persiapan untuk menggapai masa depan yang lebih baik, atau apabila disederhanakan sebagai "Intropeksi Diri".
Dalam firmannya surat al-Hasyr [59] : 18, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khottob juga berpesan : ” حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا “
” Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak”
Pentingnya setiap individu menghisab dirinya sendiri untuk selalu mengintrospeksi dirinya sendiri sebagai seorang hamba Allah Swt, karena kelak di Akhirat, segala sesuatu akan dimintai pertanggung jawabannya.
Yuk! Mulai Bermuhasabah
Pertama-tama kita hitung umur kita, sudah berapa lama kita hidup di bumi Allah? apa yang sudah kita lakukan dengan diri kita selama ini? lebih banyak kebaikan (manfaat) atau keburukan (mudharat) ? kemudian tanyalah kepada diri sendiri kira-kira berapa lama lagikah umur kita di dunia ini? apabila umur rata-rata orang Indonesia adalah 65th, maka andaikanlah saja kita hidup sampai umur 65th, maka berapa lama lagi kita hidup? Mau kita apakan sisa hidup kita?
Kalau tujuan hidup kita seperti yang diutarakan diatas mendapat ni'mat dunia dan keselamatan akhirat, maka untuk mencapai tujuan tersebut "timbangan" kita harus lebih berat ke-kanan, yaitu lebih banyak amal baik dan manfaat. Kalau dari muhasabah sekiranya kita masih beda tipis antara timbangan kanan dan kiri, kita harus mulai bekerja lebih keras mengisi timbangan kanan (kebaikan)kita,
A. Muhasabah Terhadap Perintah-Perintah Allah yang Wajib dahulu kemudian yang Sunah
1. Sholat : - Sholatkah kita ? atau tidak?
- Berapa kali sholat? Berapa kali tidak (meninggalkan) sholat karena lalai dsb?
- Tepat waktu tidak? ataukah suka terlambat, diakhir waktu?
- Khusyu' atau tidak?
- Ikhlas (Lillahi Ta'Ala) tidak sholat nya?
2. Puasa : - Puasa atau tidak?
- Bolong-bolong tidak puasanya?
- Kalau ada yg bolong, sudah kita qadha belum puasa kita?
- Puasa saya ada implikasi positiv nya tidakbagi diri kita?
3. Zakat kita, Haji kita, semua perintah Wajib dari Allah kita muhasabah satu persatu.
4. Kemudian Muhasabah dari sudah atau belum nya kita melaksanakan Sunah-Nya?
B. Muhasabah Terhadap Larangan-larangan Allah
Renungkan....berapa banyak dan apa saja larangan-larangan Allah yang tetap kita lakukan karena syahwat/nafsu dunia? Banyak kah? Apakah kita sudah men-Esa kan Allah ataukah kita masih suka percaya bahwa ada selain Allah yang dapat menolong kita alias syirik, seperti dukun atau paranormal dan peramal? Apa kita sudah jujur atau masih suka berbohong? Apa kita makan harta halal atau kita makan hasil korupsi? Apa kita sudah menjaga kesucian diri sebelum menikah ataukah kita dengan santai berpacaran dan menyerempet zina? dan lain sebagainya.
C. Muhasabah Terhadap Perilaku-Prilaku Kita
Hitung lah, lebih berat (banyak) prilaku kita selama ini yang manfaat atau yang mudharat? Apakah kita sudah menghayati Asmaul Husna dan meneladani nya? Apakah kita bermanfaat bagi selain kita atau belum bermanfaat atau audzubillah malah mencelakakan selain kita? Apakah kita dapat memberikan ketenangan dan rasa senang dihati sesama atau malah meresahkan? Apakah kita senang memuji atau malah menghardik dan bergosip? dan lain sebagainya
D. Muhasabah Terhadap Anggota Tubuh Kita
Hisablah anggota tubuh kita sekarang, karena ketika kita di hisab oleh Allah, anggota-anggota tubuh kita tersebutlah yang akan menjadi saksi di hadapan Allah, atas semua perbuatan yang pernah kita lakukan, walaupun hanya sebesar biji zarah.
1. Mata Kita : - Dipakai apa saja selama ini?
- Lebih banyak Baca Al Qur'an dan belajar atau nonton tv, serial korea misalnya?
- Memandang yang halal berapa lama? (suami /istri) atau lebih sering memandang yang tidak halal (subhat)?
2. Kaki Kita : - Berapa kali ke masjid untuk sholat berjamaah? berapa kali ke mall?
- Berapa kali ke pengajian atau menuntut ilmu? berapa sering dipakai shopping?
3. Lisan Kita : - Berapa sering di gunakan untuk melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an? atau lebih suka karaoke atau malah gibah?
- Berapa sering untuk memuji atau malah justru memaki dan marah-marah?
4. Tangan Kita: - Kita gunakan untuk menulis yang berguna atau menolong sesama atau mencuri?
5. Otak Kita : - Kita buat mencari ilmu yang bermanfaat atau malah di gunakan untuk bertipu muslihat?
dan lain sebagainya.
E. Muhasabah Terhadap Semua (Harta Benda) Yang Kita Miliki
Kita sebagai muslim haruslah tau dan senaniasa menyadari bahwasannya "Pada Hakikatnya Semua Seisi Dunia Ini MILIK ALLAH", semua yang kita miliki, seperti keluarga, anak, harta, dan sebagainya semuanya milik Allah, kita hanya di titipi-Nya. Maka nantinya ketika di nisab oleh Allah SWT, pastilah Allah juga akan meminta pertanggung jawaban kita atas apa-apa yang di titipkan-Nya kepada kita tersebut. oleh karenanya, sebelum kita di nisab di hari akhir, ada baiknya kita menisab diri kita sendiri agar kita bisa memperbaiki diri.
1. Anak Kita : - Sudah kita didik apa anak kita? Aqidah Islam? ataukah cuma ilmu pasti?
- Bisakah anak kita membaca Al-Qur'an ataukah kita justru bangga dengan anak kita yang fasih berbahasa inggris?
- Sudahkah anak kita kenalkan kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya yang indah? atau malah justru mereka lebih kenal dengan karakter kartun Disney ?
- Sudahkah anak kita ajarkan cerita-cerita tauladan Rasulullah dan para sahabatnya, ataukah tokoh Avangers dan kawan-kawannya yang jadi idolanya?
2. Harta Kita : - Sudah kita gunakan untuk apa saja harta kita? Apakah kita hambur-hamburkan, ataukah berguna untuk menolong sesama?
- Sudahkah kita 'amal kan? Zakat kan? Infaq kan? Shodaqah kan?
- Rumah kita buat apa saja? Sholat berjamaah atau hanya kegiatan tak manfaat?
3. Ilmu Kita : - Sudahkah kita menuntut ilmu?
- Apa ilmu kita bermanfaat untuk sesama atau tidak?
4. PekerjaanKita : Apa kita sudah bekerja dengan sepenuh hati? Korupsi waktu atau tidak? Bermanfaat tidak kerja kita bagi selain kita?
Dan lain sebagainya...
Kelima Muhasabah diatas tersebut sangatlah penting dan juga bermanfaat dilakukan oleh setiap orang. Tentunya hanya orang yang benar-benar percaya akan Hari Kemudian (Hari Akhir, Hari Kebangkitan dan juga Hari dimana kita di Nisab) yang akan merasakan urgensi (pentingnya) ber-muhasabah.
Dinyatakan dalam Al-Qur'an QS. An-Naba [78]: 17 s/d 40 tentang adanya ketetapan Allah yang pasti yaitu Hari Keputusan, itulah hari ketika sangsakala ditiup, lalu kita datang berkelompok-kelompok, dimana ada kelompok yang pada hidupnya melampaui batas, orang kafir, mereka itulah calon penghuni neraka, mereka ketika hidup di dunia, tidak percaya (tidak takut) kepada Hisab. Ketika hari Hisab nanti dimana manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, maka orang kafir akan menyesal dan berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku adalah tanah" tapi penyesalan kemudian adalah percuma, di Yaumul Nisab, nasib kita ditentukan oleh amal perbuatan kita sendiri, tidak ada seorangpun yang dapat mencampuri hasilnya dan hanya Syafaat dan cinta Allah lah yang dapat menyelamatkan kita dari siksa neraka. Maka sebelum kita di Nisab oleh Allah, Nisablah diri sendiri, dan segeralah ber-taubat serta memperbaiki diri.
TAUBAT, ISTIGHFAR dan MEMPERBAIKI DIRI
Muhasabah tidak akan berhasil (tidak membawa implikasi positif dalam diri kita) apabila tidak disertai usaha untuk Membersihkan diri dari lembaran hidup lama yang kotor dan membuka lembaran baru yang putih bersih dengan semangat untuk mengisi lembaran baru tersebut dengan Amalan Sholihan. Bagaimana kita dapat membersihkan diri dari kotornya hidup kita selama ini? Taubat lah jawabannya, ingatlah selalu bahwa Allah al-Ghofur ar-Rahim, mintalah ampun kepadanya, bukankah Allah bersabda dalam QS. At-Tahriim [66]: 8 " Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai...." , Tentu saja taubat juga harus dijaga, bagaimana menjaga nya (taubat)? Allah juga sudah mengajarkan cara menjaga taubat kita dalam QS. Al-Furqaan [25]: 71 "Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya".
Kesimpulan dari tulisan saya diatas adalah: Untuk mempersiapkan diri kita agar pada yaumul nisab kita dikumpulkan bersama orang-orang yang beruntung, para ahli surga adalah dengan memastikan dan berusaha terus agar kita termasuk orang yang bertaqwa, terus berusaha untuk menambah saldo amalan sholihan kita, berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, karena "sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang orang yang berbuat kebaikan" (QS. An-Nahl [16]: 128). Selain itu ber-Taubatlah kepada Allah dengan sebenar-benar nya Taubat, berjanjilah bahwa kita tidak akan mengulangi dosa-dosa yang dulu kita lakukan dan Kerjakanlah Amal Saleh, perbanyaklah sodaqoh dan silaturahim. Demikian.
Wa Allah A'lam
Sunday, December 30, 2012
Jangan lupa! Islam Itu Rahmatan Lil Alamin
Islam itu adalah agama yang sangat indah dan penuh dengan kasih
sayang, "Rahmatan Lil'Alamin" alias rahmat bagi seluruh mahluk,
bukan hanya untuk manusia, tapi juga bagi hewan, tumbuhan (alam), bukan hanya
untuk manusia mukmin, tapi semua manusia, walau tidak muslim sekalipun, itulah
esensi dari Islam, agama yang seyogyanya menebarkan rahmat yang merata kepada
bumi dan isinya semua dan bukan terpaku pada suatu kaum saja.
Esensi diatas amatlah harmonis dengan sifat yang
paling dominan dari Allah SWT,
yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Sifat-Nya tersebut sering kita artikan sebagai Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, namun kita hanya tau sebatas arti bahasa dan belum memahaminya,
sesungguhnya amat indah makna dibalik Ar-Rahman yaitu "Pelimpah kasih sempurna di
dunia bagi semua mahluk", termasuk binatang dan manusia durhaka sekalipun,
buktinya walaupun seorang durhaka (misalkan kafir, fasik,dll) tetaplah ia
diberi Rahmat melalui limpahan kesehatan, rizki dan dapat hidup
"menumpang" di bumi Allah ini, sama juga dengan kita yang muslim.
Sedangkan Ar-Rahim maknanya adalah "Pelimpah kasih
di akhirat bagi yang taat". Sesungguhnya sifat-sifat Allah demikianlah indahnya. Dialah Rabb/Tuhan Pencipta dan juga Pemelihara, Dia lah al-Akram, Tuhan Yang Maha Pemurah dengan pemberian-Nya, Mahaluas dengan anugerah-Nya, Dia yang bila berjanji, menepati janji-Nya, bila memberi, melampaui batas harapan pengharap-Nya, Dia yang tidak mengabaikan siapa pun yang berlindung kepada-Nya, Dia yang bergembira dengan diterimanya anugerah-Nya, serta memberi sambil memuji yang diberi-Nya, Dia bahkan memberi siapa yang mendurhakai-Nya. Allah juga al-Ghofur Maha Pemaaf, ia menangguhkan siksa
untuk memberi kesempatan kepada pendurhaka melakukan intropeksi, seperti yang
diberikan kepada kaum bani israil pada zaman nabi musa dulu, dan banyak sekali
kaum sesudahnya. Allah juga as-Salam (Mahadamai) dan al-Mukmin (Yang Maha Pemberi Rasa Aman), dalam
QS. al-Hasyr [59]: 23 Allah menyandingkan dua sifat-Nya tersebut dan kedua
sifat tersebut juga ditegaskan dalam QS Yunus [10]: 25 yang artinya "Allah
mengajak seluruh mahluk kepada kedamaian dan keamanan".
Ada
juga sebuah ayat yang menceritakan tentang do'a Nabi Ibrahim as yaitu dalam QS.
al-Baqarah [2]: 126 yang artinya :
Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri
yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya
yang beriman diantara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian." Allah
berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara,
kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat
kembali".
Nabi
agung itu dalam permohonannya membatasi permintaannya menyangkut rizki
(kesejahteraan, keamanan) hanya untuk orang-orang beriman, tetapi oleh Allah
pembatasan tersebut ditampik-Nya sambil menegaskan - sebagaimana terbaca
diatas- bahwa yang kafir pun akan dianugerahi-Nya kesenangan di dunia, walaupun
di akhirat nanti Allah akan memaksanya merasakan pedihnya neraka. Ini berarti
Allah menghendaki dan memerintahkan agar Kesejahteraan, keamanan harus dapat
menyentuh semua anggota masyarakat yang beriman maupun yang kafir. Subhanallah,
indahnya sifat-sifat Allah SWT, seandainya kita meneladani satu saja dari
sifat-sifat-Nya diatas, niscaya kita pasti dapat menciptakan hidup dunia yang
lebih baik.
Setelah mengupas indahnya islam dari sifat-sifat Allah
melalui beberapa ayat Al-Qur'an diatas, sekarang kita lihat betapa indahnya
ajaran Islam, dilihat dari akhlak Rasul tauladan umat islam Nabi Muhammad SAW
yang sangat terkenal dengan budi pekertinya yang sangat lembut, jujur, sabar,
penyayang. Rasulullah SAW bahkan berlaku lembut kepada orang kafir yang selalu
mencelanya. Dalam sebuah kisah diceritakan bagaimana Rasulullah selalu diludahi
oleh seorang kafir ,Rasululah tidak pernah marah apalagi membalas. Malah ketika
suatu hari Rasulullah lewat rumah orang kafir tersebut dan tidak lagi diludahi,
beliau bertanya apa yang terjadi dengan orang yang biasa meludahinya,
Rasulullah diberi tau kalau si peludah sedang sakit, maka Rasulullah tengok dan
santuni si peludah yang sedang sakit tersebut. Orang itu terharu dan hatinya
tergetar oleh akhlaq Rasulullah, dan ia pun mengucapkan syahadat di hadapan
beliau. Satu cerita lagi yang juga tak kalah mengagumkan : Seorang pengemis Yahudi buta nan renta tak bergigi
sering dibantu Rasulullah melembutkan makanan. Beliau juga menyuapinya. Saat
disuapi, pengemis buta itu sering mencaci dan menggunjing Rasulullah. Ia
membenci Rasul. Kakek itu tidak tahu bahwa orang yang ada di hadapannya dan
membantunya makan adalah orang yang selalu dicacinya. Apakah Rasul marah dan
mengatakan bahwa ia adalah orang yang dicaci pengemis itu? Tidak. Bahkan hingga
wafatnya manusia yang mulia ini. Setelah sekian lama tak ada yang membantu
melembutkan makanan dan menyuapi, barulah kakek itu merasa kehlangan sang
penolong. Ia bertanya-tanya kemana gerangan si penolong. Saat Abu Bakar
membantu menyuapi pengemis tua itu, barulah Abu Bakar bercerita, “Kakek,
tahukah engkau siapa orang yang selalu membantu melembutkan roti dan menyuapimu
selama ini? Dia adalah orang yang sering Engkau caci. Dia adalah Muhammad
Rasulullah”. Seketika sang pengemis pingsan. Saat siuman ia ucapkan syahadat
dan meninggal dunia. Para sahabat juga sangatlah menjunjung tinggi sifat mulia,
seperti cerita sayyidina Ali k.w dalam sebuah peperangan, ia diludahi
orang kafir yang pedangnya terlepas akibat hantaman pedang Ali. Muka Ali penuh
dengan ludah. Karena emosi, beliau segera mengayunkan pedangnya. Belum sampai
Ali menebas orang kafir itu, beliau menahan laju pedang kesayangannya. “Kenapa
kau tak jadi menebasku, wahai Ali?”. Ali menjawab, “Aku berperang karena Allah,
bukan karena kemarahanku. Aku tak bisa menebasmu hanya gara-gara kemarahanku
kepadamu yang meludahiku.”
Semua paparan diatas mengajarkan kita betapa
indahnya agama Allah SWT, Islam, kita diajarkan untuk mengubah dunia dengan akhlak,
kita diajarkan untuk saling mengasihi, memberikan rasa aman kepada seluruh
umat. Siapa yang mengerti esensi Islam, mengenal Allah dan meneladani sifat-Nya
yang mulia, mengikuti jejak dan sunnah Rasul dan meneladani para sahabat
Rasulullah, sesungguhnya akan menjadi orang yang sangat beruntung.
Saya berandai, bahwa sekiranya seluruh umat manusia
yang mengaku beragama Islam mengerti esensi dari Islam, maka niscaya betapa
indahnya ukhuwah islamiyah yang akan terjalin, tidak ada lagi pengotakan-pengotakan
antar saudara sesama muslim yang terjadi, tidak ada yang berani berucap bahwa
hanya dia yang benar dan yang lain sesat, karena kita sadar hanya Allah lah
yang memiliki hak prerogatif menentukan mana yang lurus dan mana yang sesat.
Niscaya, kita akan sangat mengasihi sesama manusia, tidak tebang pilih,
walaupun misalnya berbeda keyakinan, selama kita tetap menjunjung akidah kita,
dengan demikian, mungkin saja banyak ummat yang akan melihat dan merasakan
keindahan ajaran islam melalui akhlak umatnya, sehingga tergerak
hatinya untuk memeluk Islam, seperti si peludah yang dijenguk oleh
Rasulullah SAW.
Namun saya tidak mau hanya berandai, lebih penting bagi
kita untuk berusaha dan ber do'a agar kiranya bisa memulai dari diri kita
sendiri untuk ber akhlak islami, meneladani sifat Allah as-Salam, yaitu paling
tidak, bila tidak dapat memberi manfaat kepada selainnya, maka jangan sampai
dia mencelakakannya; kalau dia tidak dapat memasukkan rasa gembira ke dalam
hatinya, maka paling tidak jangan dia meresahkannya; kalau dia tidak dapat
memuji selainnya, maka paling tidak dia jangan mencelanya. demikian indah
ajaram Islam ini.
Wa
Allah A'lam
Subscribe to:
Posts (Atom)